Sabtu, 03 November 2018

PUBG IN REAL LIFE

PLAYERUNKNOWN'S BATTLEGROUNDS
PUBG

Namaku Arte, aku duduk di kelas 11 di sebuah SMA swasta bernama Suzuran, aku dan ketiga temanku sangat suka bermain game, terutama game yang bergenre battle royal game yang bergenre battle royal mengharuskan seklompok pemain yang menjadi tim bertahan hidup di sebuah pulau terpencil yang tak berpenghuni bernama Sanhok dengan cara membunuh semua tim musuh yang masih hidup dan kita bisa mengambil barang barangnya, dalam game itu juga sudah di sediakan bangunan bangunan seperti gubuk, rumah penduduk, dan juga pangkalan militer.
Nah di dalam bangunan bangunan itu terdapat pasokan yang di perlukan oleh pemain seperti senjata, minuman berenergi, suntikan, perban, obat obatan dan lain lain, namun selain barang barang tersebut di game ini juga di beri supply dari udara oleh pesawat pesawat militer yang lewat. Selain itu di pulau sanhok juga terdapat alat transportasi seperti mobil, buggy, speed boot, dan motor yang berguna untuk melarikan diri dari musuh ataupun safezone, safezone adalah zona dimana para pemain tidak terkena radiasi elektromagnetik yang bisa mengurangi nyawa pemain, semakin lama safezone di game ini semakin mengecil sehingga para pemain seperti di giring untuk bertemu dan berperang satu sama lain.
Pada suatu malam aku dan ke 3 teman yang  selalu bermain game bersamaku yaitu Mota, Cahya, dan Dante bermain game itu sampai larut malam di rumah mota, kami sudah memainkan 4 pertandingan dan selalu mati di posisi 15 besar padahal game itu dibatasi 25 tim per pertandingan dengan anggota satu tim sebanyak 4 orang jadi di satu pertandingan terdapat 100 orang, belum puas dengan posisi bisa di bilang cukup jelek, kami pun bersepakat untuk memainkan satu pertandingan lagi sebelum tidur.
"Pokoknya di pertandingan ke lima ini kita harus juara" ucapku dengan semangat yang menggelora.
Ketiga temanku pun mengiyakan perkataanku dengan penuh semangat, namun setelah kami menekan tombol start pada game sesuatu yang aneh terjadi, layar handphone kami tiba tiba mengeluarkan sinar yang begitu terang sehingga membuat mata kami menjadi silau dan tak bisa melihat sekeliling aku pun tak sadarkan diri, setelah beberapa saat aku mulai membuka mataku karena Dante  menepuk nepuk pipiku dan mencoba menyadarkanku.
"ar.. ar.. arteee.. bangun arr.. " ucap Dante sembari menepuk pipiku,
Aku pun beranjak bangun dan melihat Mota dan Cahya masih pingsan di sebelahku, aku juga merasa asing dengan tempat dimana kami berada, setelah menyadarkanku Dante pun menyadarkan Mota dan kemudian aku menyadarkan Cahya.
"ini kita dimana sihh kok kayak banyak pohon pohon tinggi kayak di hutan belantara gini" ucapku sembari melihat sekeliling.
"aku gak tau ar, aku juga bingung kenapa kita bisa sampai sini" ucap Dante.
"iya nih,  bukannya tadi kita ada di rumahnya Mota" ucap Cahya.
Mota berdiri dan berjalan mencoba mencari tahu tempat apa ini dan sedang dimana kita berada saat ini, tak lama kemudian Mota pun berteriak
"ARTE, DANTE, CAHYA..  CEPETAN SINI DEH"
Aku, Dante, dan Cahya pun berlari menuju arah suara Mota, dan kami pun dikejutkan dengan pemandangan yang kami lihat, kami melihat banyak rumah penduduk dan ada pangkalan militer tak jauh dari rumah penduduk tersebut, kami pun pergi menuju ke salah satu rumah penduduk dan ternyata di rumah itu tidak ada orangnya tetapi di dalamnya terdapat beberapa senjata api beserta pelurunya,  kami pun mengambil salah satu senjata dan kami pun saling bertatapan dengan perasaan yang cukup aneh.
"jangan-jangan.. "
" KITA ADA DI SANHOK....." teriak Dante shock.
Di dalam rumah tersebut juga terdapat radio kecil kami pun mencoba menyalakannya.
"menjauhlah dari safezone dan bunuhlah lawan kalian, jadilah yang terakhir hidup di pulau ini agar bisa keluar dari game ini" suara itu muncul dari radio kecil yang kami nyalakan.
Tak kami sangka ternyata kami masuk kedalam game yang sering kami mainkan dan kami disini kami menjadi pemain yang sebenranya, bukan menjadi pengendali, di tangan kami masing masing juga terikat sebuah gelang LED yang menandakan nyawa kami di game, kami pun dibekali dengan alat semacam gps untuk mengetahui letak safezone dan walkie talkie untuk berkomunikasi.
"baiklah di sini kita harus berusaha menjadi nomer 1 agar bisa keluar dari game ini" ucapku penuh semangat.
"Wokeeee... " saut ketiga temanku.
" baiklah, sekarang kita berpencar dan cari alat alat yang kita butuhkan, dan nanti berkumpul di sini lagi" ucapku.
Kami pun berpencar ke rumah rumah di sekitar rumah tadi, aku menemukan senjata yang sering aku pakai ketika aku memainkan game ini melalui handphone, senjata itu adalah AKM senjata ini bisa di gunakan dalam jarak dekat maupun jauh, tak lama kemudian teman temanku juga mendapatkan senjata yang sering mereka pakai disaat mereka bermain melalui handphone,  Mota mendapatkan KAR98K yang merupakan sniper, Dante mendapatkan M416 senjata ini hampir mirip dengan AKM hanya saja lebih stabil, sementara itu Cahya mendapatkan S12K yang merupakan sebuah shootgun yang cocok digunakan untuk jarak dekat, setelah dirasa cukup mendapat perbekalan kami pun berjalan menuju safezone yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari posisi kami saat ini, untung saja zona radiasi elektromagnetiknya belum mengecil jadinya kita bisa berjalan menuju safezone terlebih dahulu, setelah sampai di safezone kami mendengar suara tembakan dari arah kanan kami kami pun menghampirinya perlahan, ternyata ada yang sedang baku tembak disana, Mota pun mengincar dari kejauhan dengan snipernya dan menembakan 1 peluru yang tepat mengenai kepala musuh,  musuh itu pun mati seketika kami pun lebih mendekat ke lokasi dimana mayat itu berada, ternyata di situ masih ada 3 orang lagi, aku pun siap siap dengan mengisi peluru di senjataku dari jarak sekitar 100 mter aku melihat seseorang yang sedang meminum minuman berenergi akupun menembakinya tanpa hingga dia sekarat dan akhirnya mati, dan disitu tinggal 2 orang yang tersisa, Cahya melihat 2 orang yang sedang berdiskusi dia pun berlari menghampiri kedua orang itu dan menembakinya, setelah itu kami pun mengambil barang barang yang tadinya dibawa oleh orang orang yang kami bunuh dan melanjutkan perjalanan ke safezone.
***
Tak terasa waktu begitu cepat,  ternyata kami sudah hampir di penghujung pertandingan,  tinggal tersisa 3 tim yang masih hidup, itu berarti tinggal 12 orang termasuk kami,  kamipun beristirahat dengan duduk di bawah pohon dan meminum minuman berenergi yang kami bawa masing masing, kami dikejutkan dengan sebuah tembakan yang tepat mengenaiku, tembakan tersebut berasal dari belakangku.
Tembakan itu mengurangi nyawaku sebanyak 90%.
"CAH..  DI BELAKANGKU CAH..  CAHYAAA..  TOLONGGG" aku berteriak sambil menahan rasa sakit.
Cahya pun membantu mengobati lukaku dan aku pun megisi nyawaku dengan menyuntikkan obat pertolongan pertama, sementara itu Mota mulai mengincar dan mencaritahu keberadaan musuh yang menembakku tadi, dan dia pun berhasil menemukan orang yang menembaki aku, Mota melepaskan 2 tembakan yang tepat mengarah ke tubuh musuh dan menyebabkan musuh itu sekarat, selagi musuh itu di tolong oleh temannya, aku, Mota, Cahya, dan Dante menyerbu musuh itu dari berbagai arah, aku dan Dante mulai menembaki dari jarak 50 meter, sementara Cahya terus maju dan menembaki hanya dengan jarak 5 meter. Aku, Dante, Mota, dan Cahya pun berhasil membunuh masing masing 1 musuh. Dan ini saat yang paling mendebarkan, karena tinggal 1 tim lagi yang perlu kami kalahkan agar bisa menjadi yang nomer 1 dan keluar dari game ini.
Safezone semakin mengecil dan kami belum menemukan tanda tanda keberadaan tim musuh yang terakhir ini, namun kami mencurigai 1 rumah dimana rumah tersebut memiliki ukuran yang tidak terlalu besar dan terbuat dari kayu sehingga kami bisa mendengar jejak kaki dari jarak dekat, kami pun menghampiri rumah itu dan ternyata kosong, kemudian kami mencari sebuah batu besar untuk tempat sembunyi, di tempat itu Mota mulai mengincar musuh, dan benar saja dia menemukan keberadaan 1 tim musuh terakhir, musuh itu berjarak kurang lebih 300 meter dari kami, Mota pun mulai menembaki musuh itu, aku dan Dante pun membantu mota menembaki musuh itu sementara Cahya mengawasi sekeliling siapa tau salah satu anggota tim musuh ada yang mendekat.
Mota berhasil membunuh 1 orang musuh dan aku berhasil membuat 1 orang sekarat, karena sudah tidak sabar Cahya pun berlari menuju gubuk yang digunakan tim musuh untuk bersembunyi, namun sayang sebelum sampai di gubuk itu dia di tembakki dan akhirnya sekarat,  untung saja dia berhasil sembunyi di balik pohon besar sehingga kami bisa membantunya, satu persatu dari kami pun berlari menghampiri Cahya yang ssdang sekarat, Mota membantu mengobati lukanya sedangkan aku dan dante terus berlari ke arah gubuk musuh sambil bersiap menembakan timah panas bila ada musuh yang terlihat.
Aku berhasil membunuh 2 orang sekaligus, tetapi nyawaku berkurang banyak karena terkena tembakan dari 2 orang musuh, aku dan Dante pun mundur dan menunggu Mota selesai mengobati Cahya, setelah cahya sembuh kami pun bersepakat untuk menyerbu gubuk musuh dari berbagai arah.
"WOYY..  KALIAN SUDAH DI KEPUNG... MENYERAHLAH" teriak Dante.

Cahya pun berlari ke dalam rumah dan menembaki 2 orang yang tersisa dengan shootgunnya, kami pun bersorak atas kemenangan tim kami menjadi yang nomer 1, dan kami lega akhirnya kami bisa keluar dari game ini, namun setelah 5 menit kami tunggu tidak ada tanda tanda kami keluar dari game.
"Cahya.. Mota.. Dante.. Arte.. bangun ihh..udah pagi ini sholat subuh dulu sana" aku mendengar sayup sayup suara perempuan, dan ternyata itu ibunya Mota yang berusaha membangunkan kami.
Ternyata kami tertidur saat bermain game dan bermimpi memasukki game itu.
" lahh ternyata cuman mimpi. " kataku sambil sedikit keheranan.
" gilaa tadi gue mimpi masuk ke game. " ucap Dante.
" iya gue jugaa. " saut Mota dan Cahya
Ternyata ke 3 temanku juga memimpikan mimpi yang sama sepertiku, mungkin karena kami bermain game terlalu lama dan hingga larut malam akibatnya mimpi kami pun tenatang game itu.
Setelah itu kami bersiap siap untuk sholt subuh berjamaah dan setelahnya pulang kerumah masing masing.

~TAMAT~

ARTE : Arya Tedi Kurniawan @aryatedi
MOTA : Moch Zida Nilta @zidamoch
CAHYA : Cahyo Dwi Kartiko @mztiko26
DANTE : Isal Mahsun @isalldante

THANKS FOR UR ATTENTION
SEE YOU NEXT ARTICLE💕💕💕

PUBG IN REAL LIFE

PLAYERUNKNOWN'S BATTLEGROUNDS PUBG Namaku Arte, aku duduk di kelas 11 di sebuah SMA swasta bernama Suzuran, aku dan ketiga temanku...